Artikel

Primary tabs

Refleksi Pandemi : Semangat Guru Mendidik

Refleksi Pandemi : Semangat Guru Mendidik

Oleh : Riskan Akhbari, S.Pd

Kepala SMA Negeri 1 Kelapa Kampit

Pandemi memang sudah bisa dikatakan berlalu bagi sebagian besar negara di dunia. Ada beberapa catatan penting di dunia pendidikan yang perlu diungkap sebagai sebuah refleksi dari perjalanan yang telah dilewati selama pandemi tersebut.

Bagi seorang guru, saat pandemi ada beberapa tantangan yang dirasakan saat itu. Kurangnya akses teknologi dan internet yang stabil untuk mengajar secara daring. Sulit mengelola interaksi dan engagement dengan siswa saat belajar secara daring. Kurangnya dukungan dari orang tua dan lingkungan siswa untuk belajar daring. Beban kerja yang meningkat dan stres karena harus menyesuaikan diri dengan sistem baru. Kurangnya kolaborasi dan komunikasi dengan rekan sejawat dan tenaga pendidik lainnya.

Tantangan ini bisa lebih besar atau lebih kecil tergantung pada kapital yang dimiliki oleh guru, seperti akses teknologi dan dukungan lingkungan. Kapital ini dimaknai sebagai sumber daya yang mereka miliki, baik dari segi teknikal, seperti gawai, akses internet, dan kuota yang cukup, maupun yang bersifat substansial, seperti kepedulian dan tanggung jawab terhadap pendidikan anak-anak.

Dalam Policy Brief Education During Covid-19 and Beyond yang dirilis PBB (2020), disebutkan bahwa sebagian besar guru di seluruh dunia tidak dipersiapkan untuk beradaptasi dengan situasi pandemi dan menuntut berbagai metode pembelajaran baru. Ini menimbulkan tantangan baru bagi guru dan sistem pendidikan, seperti peralatan dan teknologi baru, adaptasi dengan pembelajaran daring, dan pengelolaan interaksi dengan siswa.

Oleh karena itu, dibutuhkan dukungan dan inisiatif untuk membantu guru mengatasi tantangan ini dan memastikan bahwa siswa tetap menerima pendidikan yang berkualitas selama dan setelah pandemi.

Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa pembelajaran jarak jauh yang mengandalkan internet membutuhkan akses internet dan keterampilan pengoperasian TIK. Banyak guru kontrak yang tidak memiliki akses atau keterampilan ini, yang membuat mereka rentan kehilangan gaji dan pekerjaan.

Ini menambah tantangan bagi guru dan memperkuat perlunya dukungan dan inisiatif untuk membantu guru memahami dan menggunakan teknologi dan TIK untuk pembelajaran jarak jauh. Dukungan ini sangat penting untuk memastikan bahwa guru dapat beradaptasi dengan situasi pandemi dan tetap memberikan pendidikan yang berkualitas kepada siswa.

Seringkali guru menjadi sasaran blamer untuk masalah pendidikan. Kritik dan keluhan terhadap kinerja guru bisa sangat tinggi, bahkan saat pandemi, meskipun guru harus beradaptasi dengan situasi baru dan mencoba memberikan pendidikan yang berkualitas dalam kondisi sulit.

Ada pihak yang menuduh guru lebih mudah bekerja selama pandemi, padahal guru harus mengatasi tantangan baru dan menyesuaikan diri dengan pembelajaran jarak jauh. Ini sangat tidak adil dan menunjukkan kurangnya pemahaman akan tantangan yang dihadapi guru.

Oleh karena itu, penting untuk memperlakukan guru dengan empati dan memahami situasi yang mereka hadapi selama pandemi dan memberikan dukungan yang mereka butuhkan.

Ada pandangan yang salah bahwa guru hanya memberikan tugas dan beban berpindah ke orang tua. Padahal, guru memiliki beban berlipat, termasuk mencari strategi agar anak-anak dapat menerima pelajaran dengan lebih mudah dan efektif. Mereka harus memikirkan cara untuk menyesuaikan diri dengan pembelajaran jarak jauh, mengatasi masalah teknis, dan membuat pembelajaran menjadi menyenangkan dan efektif bagi siswa.

Guru juga harus bekerja dengan orang tua dan melibatkan mereka dalam proses pembelajaran, sehingga mereka dapat membantu siswa belajar dengan lebih efektif. Ini menunjukkan bahwa tugas guru saat pandemi jauh lebih kompleks dan berat daripada yang diketahui oleh masyarakat umum. Oleh karena itu, penting untuk memperlakukan guru dengan hormat dan memahami beban yang mereka hadapi.

Situasi pandemi membuat pembelajaran jarak jauh menjadi solusi utama, namun hal ini tidak berlaku bagi semua daerah. Ada banyak guru di daerah pedesaan atau wilayah terpencil yang tidak memiliki akses internet yang cukup atau teknologi yang memadai untuk mengimplementasikan pembelajaran jarak jauh.

Dalam situasi ini, guru seringkali harus membuat perjalanan ke rumah siswa untuk memastikan bahwa mereka menerima pendidikan yang berkualitas. Ini memerlukan dedikasi dan komitmen yang luar biasa dari guru, bahkan dengan risiko yang ada. Mereka melakukan ini karena mereka memahami bahwa pemenuhan hak anak terhadap pendidikan adalah hal yang penting dan harus dilakukan.

Contohnya seperti guru honorer, mereka seringkali memiliki keterbatasan sumber daya dan ketergantungan pada gaji bulanan sebagai sumber utama pendapatan mereka. Dalam situasi pandemi, pembatalan kelas dan pembelajaran jarak jauh yang berlangsung selama berbulan-bulan bisa membuat guru honorer kehilangan pekerjaan dan gaji.

Oleh karena itu, mereka harus berjuang untuk mencari nafkah tambahan demi bisa memenuhi kebutuhan hidup mereka dan keluarga. Ini menunjukkan bagaimana guru, bahkan guru honorer, memiliki dedikasi dan komitmen yang luar biasa untuk memastikan bahwa anak-anak menerima pendidikan yang berkualitas, meskipun mereka sendiri mungkin menghadapi keterbatasan.

Meskipun ada aturan pemerintah yang memungkinkan bagi penyediaan kuota bagi guru dan siswa melalui Dana BOS, namun pada prakteknya, tidak semua guru honorer otomatis menerima anggaran untuk kuota tersebut. Banyak faktor yang mempengaruhi penerimaan anggaran, seperti ketersediaan anggaran, prioritas pemerintah, dan mekanisme pengelolaan dana.

Ini menunjukkan bahwa masih ada hambatan yang harus diatasi dalam upaya memastikan bahwa semua guru dan siswa memiliki akses yang merata terhadap teknologi dan sumber daya yang diperlukan untuk pembelajaran jarak jauh.

situasi pandemi dan keterbatasan ekonomi memaksa banyak guru untuk mencari sumber penghasilan tambahan. Beberapa guru mungkin harus mencari cara alternatif untuk menghasilkan uang, seperti berjualan melalui media daring, memulai bisnis sampingan, atau bekerja pada pekerjaan paruh waktu.

Meskipun ini mungkin membantu mereka untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka, hal ini juga menambah beban dan tekanan yang mereka alami, karena mereka harus memadukan tugas mengajar dengan pekerjaan tambahan.

Pandemi membawa perubahan besar bagi dunia pendidikan, dan guru harus beradaptasi dengan cepat dan memanfaatkan teknologi untuk memberikan pembelajaran yang efektif dan berkualitas bagi siswa.

Meskipun guru yang memiliki akses memadai dan dukungan sekolah memiliki beberapa keuntungan, mereka tetap harus menghadirkan metode pembelajaran yang interaktif, kreatif, menyenangkan, dan menjadikan anak-anak aktif.

Hal ini membutuhkan banyak upaya dan kreativitas dari guru untuk memenuhi tuntutan itu. Mereka juga harus memahami kebutuhan setiap siswa dan menyesuaikan pembelajaran dengan kondisi dan situasi yang berbeda-beda.

Ini jelas bukan perkara mudah. Mengajak anak-anak aktif, sementara mereka terbatasi oleh layar. Semenarik apa pun guru mengajar melalui layar, jelas tidak tergantikan oleh interaksi tatap muka langsung di ruang kelas.

Interaksi tatap muka memiliki dampak yang signifikan terhadap hasil pembelajaran siswa. Guru harus memiliki keterampilan dan kreativitas tinggi agar dapat mengatasi tantangan ini.

Membangun interaksi sosial dan karakter siswa melalui pembelajaran daring memang menjadi salah satu tantangan terbesar bagi guru. Peran guru sangat penting dalam memotivasi dan membangun minat belajar siswa. Guru harus memiliki keterampilan dan strategi khusus untuk mengatasi tantangan ini dan memberikan pembelajaran yang berkualitas bagi siswa.

Menjaga perhatian dan keterlibatan anak kecil selama pembelajaran daring bisa menjadi tantangan tersendiri. Dibutuhkan metode pengajaran yang kreatif dan interaktif agar mereka tetap fokus dan tertarik pada pelajaran. Kurangnya gerakan fisik dan interaksi sosial juga dapat menyulitkan anak-anak untuk menyesuaikan diri, menyebabkan gangguan dan berkurangnya kemampuan untuk menyimpan informasi.

Situasi krisis ini membutuhkan guru-guru dengan kepedulian dan kasih yang lekat pada anak-anak. Ruang komunikasi dengan orang tua harus dibuka lebih intensif. Jadi, problem yang dihadapi dapat diurai bersama.

Menjaga hubungan baik dengan orang tua dan memastikan anak-anak bisa terus belajar dan berkembang adalah tanggung jawab bersama. Kerja sama dan komunikasi yang efektif membantu mengatasi permasalahan dan memastikan tujuan pendidikan tetap tercapai.

Kolaborasi berbagai pihak penting untuk memastikan bahwa pendidikan tetap berjalan dengan baik meski ada pandemi. Tanpa dukungan dari pemerintah dan masyarakat, guru-guru dan siswa yang kurang mampu bisa terpinggirkan dan kualitas pendidikan bisa terpengaruh. Oleh karena itu, kerjasama dan solidaritas semua pihak sangat diperlukan untuk memastikan pendidikan yang merata dan berkualitas untuk semua siswa.

Stamina dan semangat guru dalam mengatasi keterbatasan dan tantangan dalam pembelajaran daring sangat penting bagi keberlangsungan pendidikan dan perkembangan anak-anak. Para guru adalah pahlawan dalam memastikan anak-anak tidak terpinggirkan dan mendapatkan pendidikan yang baik.

Penulis: 
Riskan Akhbari, S.Pd
Sumber: 
SMAN1 Kelapa Kampit
Tags: 
smansakampit