Artikel

Primary tabs

Membangun Ekologi Pembelajaran Anak

Membangun Ekologi Pembelajaran Anak

Deska Anandya Putra Gani, S.STP, M.Tr.IP

Apa itu ekologi pembelajaran ?

Mendengar kata ekologi, rasanya seperti sudah tidak asing. Berasal dari dua kata Bahasa Yunani, yaitu oikos yang bermakna rumah atau tempat hidup dan logos yang artinya ilmu. So, ekologi dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari organisme dalam tempat hidupnya. Ekologi mempelajari hubungan timbal-balik antara organisme dengan lingkungannya. Muncul pertanyaan apa hubungannya ekologi dengan pembelajaran. Sudah menjadi fitrah manusia dengan rasa keingitahuannya untuk mencari informasi dan memroses informasi yang diperolehnya menjadi suatu pengetahuan. Maka dibutuhkan sebuah lingkungan yang baik untuk menyaring informasi yang akan diterima, sehingga nantinya manusia tersebut dapat tumbuh secara positif dalam artian sehat secara jasmani dan rohani.

Ekologi pembelajaran didasarkan pada gagasan bahwa pembelajaran berkembang dari waktu ke waktu dan dalam berbagai pengaturan. Peluang belajar dimungkinkan dan dibentuk oleh ekologi pembelajaran yang didiami seseorang. Ekologi pembelajaran adalah konteks fisik, sosial, dan budaya di mana pembelajaran berlangsung (Bevan, 2016). So, tempat belajar untuk mendapatkan wawasan dan pengetahuan baru tidak hanya berlangsung dalam lingkungan sekolah, namun mencakup seluruh lingkungan yang dijalani anak setiap hari. Tidak mudah menemukan lingkungan yang tepat bagi anak untuk memperoleh pengalaman pembelajaran yang bermakna.

Every children has their own pathway to learning and its our responsible to lead their better future and give them chance to fulfill what they dream”. (Setiap anak memiliki jalur mereka sendiri untuk belajar dan tanggung jawab kita untuk memimpin masa depan mereka yang lebih baik dan memberi mereka kesempatan untuk mewujudkan apa yang mereka impikan). Terima kasih google translate !!. Dengan minat dan bakat yang berbeda, juga tentunya dengan gaya belajar yang berbeda, entah itu Visual, Auditory, Reading and Writing, atau Kinesthetic. Pada Kurikulum Merdeka, terdapat satu tahapan yang harus dilalui sebelum masuk ke dalam pembelajaran formal dalam kelas, yaitu Asesmen Diagnostik. Asesmen  Diagnostik dilakukan secara spesifik untuk mengidentifikasi kompetensi, kekuatan, kelemahan peserta didik, sehingga pembelajaran dapat dirancang sesuai dengan kompetensi dan kondisi peserta didik. Mirip analisis SWOT yah, kalau analisis SWOT digunakan untuk mengevaluasi kinerja suatu organisasi dan menentukan strategi yang tepat bagi kehidupan organisasi. Sementara asesmen diagnostik menentukan gaya belajar yang tepat bagi peserta didik, sehingga pembelajaran di kelas berjalan dengan efektif.

Nah, sekarang bagaimana menemukan ekologi pembelajaran yang tepat bagi anak ?

Mengutip quote terkenal, “it takes a village to raise a child” (Clinton, 1996), artinya dibutuhkan satu desa untuk membesarkan seorang anak. Keluarga, Agama, Sekolah, Masyarakat dan Pemerintah memiliki tanggung jawab yang sama untuk membimbing anak menemukan jalan pembelajaran yang tepat. Penulis mengusulkan sebuah model ekologi pembelajaran, Pentagon Ekologi Pembelajaran. Model ini terdiri dari 5 (lima) lingkungan utama yang memberikan dampak kepada pertumbuhan dan masa depan anak nantinya.

1. Keluarga

Keluarga merupakan lingkungan dominan bagi tumbuh kembang anak. Keluarga harus dapat menunjukkan kebiasaan yang positif, karena anak akan mengambil sosok dari keluarga sebagai teladan, baik itu Kakek, Nenek, Ayah, Ibu, Paman, Bibi, Kakak, Sepupu dan lainnya. Perilaku keluarga dalam kehidupan sehari-sehari cenderung ditiru oleh anak karena anak memiliki karakter mimicry (meniru).Jadi arahnya adalah family’s custom menjadi child’s habit.

2. Agama

Agama berperan penting dan menjadi tiang penyangga kehidupan manusia. Anak harus memperoleh Pendidikan agama yang kuat untuk menghadapi era informasi yang bebas. Anak pada Generasi Z cenderung lebih sensitif dan menggunakan perasaannya dalam bertindak dan menghdapi kondisi tertentu. Melalui pendalaman pengetahuan agama pada anak, akan menciptakan ketentraman pada batin anak. Anak akan menjadi lebih beriman, bertakwa dan berakhlak mulia.

3.Sekolah

Sekolah tidak hanya sebagai tempat anak menimba ilmu, namun juga sebagai komunitas sosial yang membentuk karakter anak dalam kehidupan sehari-hari. Sekolah memastikan anak-anak memperoleh pembelajaran bermakna, sehingga anak merasa Bahagia dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran di kelas. Dampaknya adalah meningkatnya pengetahuan secara keilmuan dan kompetensi anak untuk menghadapi masa depannya dan terjun dalam kehidupan bermasyarakat.

4.Pemerintah

Pemerintah memilki andil yang besar terhadap masa depan penerus bangsa. Pemerintah memegang kendali untuk mengeluarkan kebijakan yang berkaitan dunia Pendidikan yang akan diterapkan pada sekolah. Kebijakan yang berubah-ubah dan diambil dengan tergesa-gesa dapat menimbulkan chaos (kekacauan) sehingga tujuan pembelajaran siswa tidak terpenuhi dengan optimal.

5.Masyarakat

Partisipasi masyarakat berperan penting dalam pendidikan karakter pada anak. Dalam kehidupan bernegara, masyarakat memilki tanggungjawab untuk peduli terhadap Pendidikan penerus masa depan bangsa, agar tidak bergantung dengan negara lain. Peran aktif masyarakat tidak hanya sebatas dalam komite sekolah, namun juga dalam kehidupan anak sehari-hari dalam masyarakat dengan menjadi teladan, sehingga terciptanya

Kelima lingkungan di atas saling berhubungan dan memiliki hubungan timbal balik dan menjadi sebuah ekologi pembelajaran pada anak. Untuk memastikan seluruh lingkungan berjalan dengan harmonis, maka setiap lingkungan harus berkolaborasi mendukung anak untuk beradaptasi. Pendidikan memiliki peranan besar dalam memutus lingkaran kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan bagi negara dan masyarakat.

Penulis: 
Deska Anandya Putra Gani, S.STP, M.Tr.IP
Sumber: 
Cabdin5
Tags: 
cabdindikwilayah5