Artikel

Primary tabs

Ketegaran Mental (Mental Toughness ) dalam menghadapi pertandingan sepak bola

KETEGARAN MENTAL MENTAL TOUGHNESS ) DALAM MENGHADAPI PERMAINAN SEPAK BOLA

“Kuasai dan kalahkan diri sendiri lebih dahulu sebelum menguasai dan mengalahkan orang lain”

Oleh: Daryono, M.Or

Guru PJOK SMKN 1 Tanjugpandan

                Ketegaran Mental (Mental Toghness) adalah suatu kondisi atlet untuk tetap mampu berpikir secara positif, realistik, tenang dan jernih, meskipun dalam keadaan tertekan oleh lawan (Loehr, 1993: 182). Atlet yang tegar mentalnya akan mudah menguasai diri dan mengendalikan emosi, cepat mengubah emosi negatif menjadi positif, mampu mengatasi kesalahan dan kegagalan tanpa emosi, cepat bertindak dan mampu ke luar dari krisis.

Dalam olahraga permainan terutama sepakbola ketegaran mental ini mutlat dikuasai oleh setiap pemain/atlit untuk menghadapi setiap kompetisi atau event-event pertandingan. Seorang pelatih bertanggung jawab untuk mempersiapkan atlitnya terutama latihan mental, selain latihan fisik, teknik, taktik. Kompetisi yang serba padat dan tensi pertandingan tinggi misalnya seperti Sea Games Kamboja 2023 yang baru saja selesai dilaksanakan, cabang sepakbola tim Indonesia mendapatkan mendali emas mengalahkan tim Thailand dengan tensi pertandingan tinggi diiringi provokasi dari tim Thailand sehingga kericuhan tidak dapat dihindarkan dengan ketegaran mental, pengontrolan emosi yang baik dan fokus dalam pertandingan akhirnya tim Indonesia memenangkan pertandingan dan mendapatkan mendali emas.

Ketegaran mental yang baik bagi semua pemain/atlit harus dilatihkan sejak awal proses latihan dengan ketegaran mental yang baik merupakan kualitas dasar untuk mengekspresikan kedewasaan seorang pemain/atlit. Jadi sejak dini sudah harus ditanamkan kepada pemain/atlit akan pentingnya ketegaran mental ini. Dalam olahraga permainan khususnya permainan sepakbola yang lebih penting bukan menang atau kalah, tetapi juga dapat menjadi contoh yang baik kepada atlit/pemain yang lainnya, serta permainan tersebut dapat dapat dinikmati oleh semua orang yang melihatnya. Sepakbola adalah profesi yang terhormat artinya bagi setiap pemain/atlit sepakbola harus paham apa yang harus dilakukan dalam pertandingan atau permainan sehingga dapat menjadi contoh terutama bagi kaum muda, juga sebagai media hiburan bagi masyarakat.

Ciri atlet yang tegar mentalnya: tampak rileks, tenang, energik, kecemasan rendah, optimis, tenang, selalu berusaha, geraknya otomatis, konsentrasi, percaya diri, bergairah, dan terkontrol (Gritsch, 1998: 50).

Tahap Menuju Ketegaran Mental dan Pribadi yang Tegar (Adversity Question/AQ)

Tahap  IV. Pribadi yang tegar, emosinya fleksibel, kuat + tahan meski tertekan.

Tahap. III. Tegar secara Mental, sehingga disiplin berpikir, imajinasi meski tertekan, dan percaya diri.

Tahap. II. Tegar secara Fisik, sehingga mampu mengatasi latihan berat dan tampak  tegar meski dalam keadaan tertekan

Tahap. I.  kebugaran otot dan kebugaran energi, Makan 4 sehat 5 sempurna (gizi baik), Waktu Tidur dan Istirahat Cukup

Tahapan Latihan Ketegaran Mental (Loehr, 1993: 149).

 

Metode Latihan Ketegaran Mental Pemain Sepakbola

Ada dua metode latihan, yaitu secara Teori (verbal) dan Praktek.

Bentuk Teori (verbal atau anjuran), menurut Loehr (1991) sebagai berikut:

1. Mata tetap dalam kontrol, artinya pancaran pandangan mata menunjukkan apa yang

    ada dalam benaknya. Untuk itu jangan menunjukkan atau menampakkan kesedihan

    dan kejengkelan apabila mengalami kegagalan.

2. Lakukan kebiasaan (ritulas) adalah bentuk gerak yang diyakini dapat menambah rasa

    percaya diri. Misal, melakukan teriakan, dll.

3. Irama (winning pace), gunakan teknik yang selalu berhasil selama pertandingan. Bila lawan

    dapat mengatasi ubah iramanya dengan teknik yang lain. Prinsip jangan sampai terbawa oleh

    pola dan irama lawan dalam bertanding, tetapi buatlah lawan mengikuti pola dan irama kita.

    Kacaukan pola dan irama lawan yang sedang baik.

4. Pernapasan, biasakan saat istirahat tarik napas dalam-dalam, agar tetap rileks dan denyut

    jantung cepat turun. Saat melakukan pertandingan pada saat menguasai bola tetap rileks,

    terkontrol dan menambah rasa percaya diri.

5. Mempertinggi intensitas yang positif, saat merasa lelah atau berpikiran negatif

    usahakan membayangkan teknik yang dilakukan membuahkan hasil.

6. Tetap tenang dan rileks, bila muncul ketegangan saat bertanding, bayangkan diri anda

    seperti orang yang tenang dan rileks. Jangan tunjukkan kejengkelan dan berusaha

    untuk tersenyum.

7. Memperkecil terjadinya kesalahan, bila melakukan kesalahan sambil bertanding

    renungkan penyebabnya dan cari pemecahannya dengan jalan berusaha menampilkan

    penampilan yang terbaik. Bicaralah pada diri sendiri (self talk) “saya harus bisa”, dll.

8. Percaya diri, jangan risaukan kegagalan, tetapi pikirkan dan konsentrasikan cara

    untuk memperoleh keberhasilan/ kemenangan. tunjukkan semangat dalam bertanding

    meskipun tertekan, dengan berteriak atau kata-kata: “ayo”, “yak”, dll.

9. Hindari kata-kata negatif, memaki diri sendiri tidak memecahkan masalah, malah

    akan memperburuk penampilan dan sebaliknya akan membangkitkan semangat lawan.

 

Menurut Sukadiyanto,(2009 : 1), Cabang Psikologi yang berhubungan dengan Aktivitas Olahraga, antara lain:

1.            Perkembangan, mencakup pembahasan tentang,

  1. Belajar optimal dan penampilan prestasi sepanjang tahun,
  2. Heriditas  (keturunan) dan pengalaman,
  3. Proses kematangan,
  4. Masa anak-anak sampai dewasa (proses usia dan kematangan),
  5. Hambatan-hambatan dalam perkembangan.

2.            Kepribadian, mencakup pembahasan tentang:

  1. Proses adaptasi atau penyesuaian,
  2. Konsep diri seseorang,
  3. Motivasi, meliputi kekuatan motivasi, arah, dan usaha yang dilakukan,
  4. Faktor-faktor psikologis yang berpengaruh terhadap pencapaian prestasi (antara lain: emosi, ketegangan dan kecemasan, konsentrasi dan perhatian).

3.            Proses Belajar dan latihan, mencakup pembahasan tentang:

  1. Proses belajar dan variabel yang mempengaruhinya,
  2. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap penguasaan keterampilan,
  3. Penyusunan program latihan,
  4. Faktor-faktor yang mempengaruhi pencapaian prestasi,
  5. Desain instruksional,
  6. Metode pembelajaran, pemanfaatan media, dan pendekatan yang digunakan.

4.            Sosial, mencakup pembahasan tentang:

  1. Dinamika kelompok,
  2. Kerjasama dan pertandingan,
  3. Kepemimpinan dan manajemen,
  4. Pengaruh penonton,
  5. Pengaruh kelompok, lingkungan, dan budaya,
  6. Komunikasi,
  7. Dimensi-dimensi sosial.

5.            Psikometrik, mencakup pembahasan tentang:

  1. Pengukuran,
  2. Perbedaan individual dan perbedaan kelompok,
  3. Bakat, kemampuan, dan keterampilan,
  4. Pemilihan individu dan prediksi kemungkinan keberhasilan,
  5. Diagnosis, analisis, dan terapi.

Psikologi adalah ilmu yang berkaitan dengan proses mental, baik normal maupun abnormal dan pengaruhnya pada prilaku  atau ilmu pengetahuan  tentang gejala dan kegiatan jiwa (Kamus Besar Bahasa Indonesia,  2007: 901),  sedangkan  Psikologi Olahraga adalah ilmu yang mempelajari manusia dalam aktivitas olahraga. Perilaku adalah semua hal yang dialami dan dilakukan oleh manusia, baik yang tampak maupun tidak tampak, yang secara sederhana maupun kompleks (Sukadiyanto, 2009: 1), Cara mempelajari perilaku dengan pengamatan (introspeksi dan ekstrospeksi), eksperimen, tes, klinis, pengumpulan (angket, biografi, dan buku harian).Manusia merupakan satu totalitas dari perpaduan unsur fisik dan psikis (kognitif, emosi, motivasi). Prestasi merupakan akumulasi perpaduan dari potensi yang dimiliki, hasil latihan dan kemampuan psikis. Pada saat pertandingan aspek psikis lebih dominan.

 

Dengan demikian Peranan Psikologi dalam aktivitas Olahraga adalah untuk: 

1) membuat gambaran setiap perilaku atlet secara tepat pada situasi tertentu,

2) mencoba menjelaskan dampak yang terjadi sebagai akibat dari perilaku,

3) memprediksi setiap perilaku atlet,

4) mengarahkan setiap perilaku atlet, dan

5) membantu pencapaian prestasi yang maksimal.

 

Olahraga berpengaruh secara positif terhadap perilaku, sebab perilaku di lapangan sebenarnya melatih dan menggambarkan apa yang ada dalam benak pikiran olahragawan, yang di antaranya berupa:

1.  Janji/tanggung jawab (commitment), yang tercermin pada;

a) Semangat dan  antusiasmenya dalam mengikuti proses latihan, b) Datang selalu tepat waktu (disiplin), c). Merasakan bahwa aktivitas olahraga sebagai bagian dari kebutuhan hidupnya.

2. Kepandaian (intellectual), yang tampak dari;

a) Selalu ingin tahu dan bertanya hal-hal yang belum diketahuinya, b) Selalu konsisten menerapkan materi yang diberikan oleh guru (pelatih), c) Memahami dan menerapkan pola-pola (taktik) bermain untuk meraih kemenangan.

3. Semangat bertanding (berlatih), yang tampak dari;

a) Saat bermain selalu tampak senang, puas, dan dianggap sebagai sarana belajar, b) Selalu mengembangkan dan menerapkan taktik bermain dalam pertandingan, c) Setiap memperoleh angka (kemenangan) dianggap sebagai awal dari tujuannya.

4. Percaya diri, yang tampak dari ;

a) Sikapnya selalu tenang meskipun mengalami kegagalan, b) Selalu berusaha mengatasi permasalahan di arena pertandingan (lapangan), c) Tetap ceria, tidak gemetar, dan tidak menunjukkan kekecewaan meskipun kalah.

5. Keadaan emosinya stabil, tampak dari ;

a) Daya konsentrasi dan perhatiannya tetap tinggi, b) Cara berjalan dan pandangan tetap ke depan dan tenang, c) Bahasa tubuhnya selalu menunjukkan ketegaran.

Apabila seorang olahragawan atau atlit mampu menerapkan hal-hal tersebut di atas, maka akan menjadi atlit yang tegar dan memiliki Emotional Question(EQ) yang mantap. Tentunya ini akan berpengaruh terhadap penampilan atlit dilapangan pada akhirnya prestasi  maksimal yang diinginkan akan tercapai.

Selain faktor-faktor tersebut diatas hal-hal yang berpengaruh terhadap faktor  psikis atau  perilaku (penampilan prestasi) seorang atlit atau olahragawan adalah; a) Motivasi, merupakan proses psikologis yang melibatkan interaksi antara kognisi, pengalaman, dan kebutuhan seseorang , b)Stress, adalah proses dimana seseorang individu merasa menerima tekanan dan meresponnya dengan ditandai perubahan fisik dan psikis, c) Anxiety (kecemasan) adalah kondisi emosi negatif  ditandai dengan perasaan gugup, kuatir dan takut , d) Arousal adalah pembangkit adalah gerah atau emosi individu untuk mengerjakan sesuatu,   e) Agresivitas sebagai rasa permunsuhan yang kemungkinan melibatkan penyerangan atau mempermainkan orang lain atau pendorong keberanian dan penyemangat untuk satu tujuan dalam kata lain agresivitas dalam dunia olahraga adalah tenaga untuk bertanding yang muncul dari diri atlit, f) Self confidence adalah percaya diri atau perasaan yang berisi kekuatan,kemampuan dan keterampilan untuk melakukan dan menghasilakan sesuatu yang dilandasi keyakinan untuk sukses, g) Konsentrasi + perhatian, adalah kemampuan seseorang untuk memusatkan perhatian pada rangsang yang dipilih (satu objek) dalam waktu tertentu,  h) Kepribadian adalah sikap yang dimiliki setiap individu sebagai dorongan atau keinginan, opini yang menentukan tingkah laku atau tindakan seseorang,  i) Mental toughness (ketegaran mental) adalah merupakan kondisi kejiwaan atlit yang tetap mampu mengembangkan keterampilannya dalam menghadapi pertandingan/ perlombaan dalam situasi apapun dengan berfikir positif.

      Demikian sekilas informasi tentang Psikologi Olahraga semoga para pengiat dalam kegiatan keolahragaan (Pembina Olahraga, Guru Olahraga, Pelatih Klub Olahraga) kiranya dapat memahami hal tersebut diatas, terutama untuk memajukan prestasi dunia olahraga, Indonesia umumnya dan khususnya Belitung.

 

 

 

 

 

Penulis: 
Daryono, M.Or
Sumber: 
SMKN 1 Tanjungpandan
Tags: 
SMKN1 Tanjungpandan