Peran Guru dalam Pusaran Angka Putus Sekolah
oleh : SYAHRIAL, S.T
Guru Ahli Madya di SMA Negeri 1 Damar

Angka putus sekolah yang meningkat pada tahun 2022 merupakan hal yang sangat mengkhawatirkan bagi pemerintah dan masyarakat. Terlebih lagi, kondisi tersebut terjadi pada semua jenjang pendidikan, baik SD, SMP, maupun SMA.
Mengutip laporan Badan Pusat Statistik, persentase anak putus sekolah jenjang SMA sederajat selama tahun 2022 meningkat dari 1,12% di tahun sebelumnya menjadi 1,38%. Untuk jenjang SMP sederajat meningkat dari 0,9% menjadi 1,06%. Sedangkan untuk SD sederajat meningkat dari 0,12% menjadi 0,13%.
Terlihat dari laporan tersebut, ternyata angka putus sekolah pada jenjang SMA memiliki persentase yang terbesar dan tercatat meningkat 0,26% poin dibandingkan tahun sebelumnya. Angka putus sekolah di jenjang SMP dan SD juga mengalami kenaikan, meskipun lebih kecil.
Nah, meningkatnya angka putus sekolah ini mengindikasikan bahwa ada lebih banyak siswa yang tidak mampu menyelesaikan pendidikan mereka hingga tingkat yang ditentukan. Ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor, seperti keterbatasan ekonomi, masalah kesehatan, masalah sosial, atau kurangnya minat dan motivasi siswa.
Selain itu , keterbatasan ekonomi dan masalah keuangan seringkali menjadi salah satu penyebab utama siswa putus sekolah. Mereka bisa saja terpaksa harus berhenti sekolah karena harus bekerja untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga.
Begitu juga faktor-faktor seperti kekerasan, diskriminasi, dan bullying dapat mempengaruhi kondisi psikologis siswa dan membuat mereka merasa tidak nyaman dan tidak aman di sekolah. Ini bisa membuat mereka kehilangan minat dan motivasi untuk belajar, dan pada akhirnya membuat mereka memutuskan untuk mengakhiri pendidikan.
Tidak hanya itu, faktor-faktor seperti merasa tidak terlibat dan tidak memahami materi yang diajarkan bisa mempengaruhi minat dan motivasi siswa untuk belajar. Ini dapat mengarah pada perasaan frustasi dan putus asa yang akan membuat siswa memutuskan untuk berhenti sekolah.
Perlu diketahui juga, " Perilaku seperti merokok, minum alkohol, dan bergabung dengan kelompok yang kurang baik bisa mempengaruhi prestasi akademik siswa dan menyebabkan mereka putus sekolah".. Sehingga perilaku-perilaku ini dapat mempengaruhi konsentrasi dan fokus siswa, sehingga mempengaruhi hasil belajar mereka. Tidak menutup kemungkinan mereka juga dapat mengarah pada masalah kesehatan dan masalah sosial lainnya, yang bisa mempengaruhi keterlibatan siswa dengan sekolah dan membuat mereka merasa tidak nyaman atau tidak aman di sekolah.
Untuk diketahui juga, bahwa keamanan dan kondisi rumah tangga siswa juga bisa mempengaruhi keputusan mereka untuk melanjutkan atau mengakhiri pendidikan. Siswa yang tinggal dalam lingkungan rumah tangga tidak stabil atau mengalami masalah keluarga, mungkin tidak memiliki dukungan yang diperlukan untuk menyelesaikan pendidikan. Mereka mungkin terpaksa pindah ke tempat lain untuk mencari suasana yang lebih baik.
Tentunya hal ini dapat memiliki dampak negatif bagi masa depan siswa yang putus sekolah. Mereka akan memiliki keterbatasan dalam memasuki pasar kerja yang kompetitif dan memperoleh pekerjaan yang layak. Ini dapat menurunkan kualitas hidup mereka dan mempengaruhi generasi muda dan pembangunan bangsa secara keseluruhan.
Dengan demikian, meningkatnya angka putus sekolah harus menjadi perhatian utama bagi pemerintah dan masyarakat untuk membuat tindakan nyata untuk memecahkan masalah ini dan memastikan bahwa setiap anak memiliki akses yang sama untuk pendidikan yang berkualitas.
Jadi, untuk mengatasi masalah putus sekolah, perlu adanya upaya kolaboratif dari pemerintah, sekolah, dan masyarakat. Pemerintah perlu menyediakan fasilitas dan program pendidikan yang berkualitas bagi semua jenjang pendidikan.
Oleh sebab itu, " Guru sebagai garda terdepan pendidikan yang berhadapan langsung dengan siswa perlu mengambil langkah-langkah penting untuk mengatasi masalah ini ". Guru dapat membuat kelas menjadi lebih interaktif dan menyenangkan siswa merasa nyaman dan tertarik untuk belajar serta membantu siswa untuk menemukan minat dan tujuannya dalam belajar sehingga mereka memiliki motivasi untuk melanjutkan pendidikan.
Dengan membantu siswa menemukan minat dan tujuannya, guru dapat membangun motivasi dan semangat untuk belajar sehingga mereka memiliki keinginan untuk melanjutkan pendidikan., serta memberikan dukungan emosional dan akademik.
Memberikan dukungan emosional dan akademik bagi siswa yang membutuhkan, seperti memberikan bantuan tambahan untuk memahami materi atau mengatasi masalah pribadi. Dengan memberikan dukungan emosional dan akademik bagi siswa yang membutuhkan dapat membantu mereka untuk mempertahankan minat dan motivasi mereka dalam belajar.
Langkah bijak berkolaborasi dengan orang tua siswa untuk memastikan bahwa siswa memiliki dukungan yang diperlukan untuk menyelesaikan pendidikan. Orang tua memiliki peran yang sangat penting dalam mendukung siswa dalam menyelesaikan pendidikan dan mencapai tujuannya. Guru dapat bekerja sama dengan orang tua untuk mengatasi masalah yang dialami siswa dan memberikan dukungan yang mereka butuhkan untuk melanjutkan pendidikan.
Selanjutnya memantau kinerja siswa secara berkala dan memberikan umpan balik yang memotivasi dan membantu siswa untuk memperbaiki prestasinya juga penting untuk membantu mereka mempertahankan minat dan motivasi belajar. Ini bisa membantu siswa untuk memahami bagian materi yang mereka kesulitan dan memperbaiki hasil belajar mereka, sehingga mereka memiliki kepercayaan diri untuk terus belajar dan menyelesaikan pendidikan.
Dengan melakukan hal-hal tersebut, guru dapat membantu siswa untuk tetap tertarik dan termotivasi untuk belajar dan menyelesaikan pendidikan mereka, sehingga mengurangi angka putus sekolah.
Itulah sebabnya, " Penting bagi masyarakat untuk memahami bahwa pendidikan adalah salah satu aset penting bagi masa depan generasi muda dan membantu anak-anak mereka untuk menyelesaikan pendidikan merupakan langkah yang sangat penting. Masyarakat juga harus memberikan dukungan finansial dan emosional bagi anak-anak mereka dan memberikan mereka kesempatan untuk belajar dan berkembang ".
Sebagai atensi , " Mengingat pada waktunya peningkatan angka putus sekolah dapat menyebabkan dampak negatif pada pembangunan bangsa, seperti menurunnya produktivitas dan kualitas sumber daya manusia ".
Oleh karena itu, solusi yang tepat harus ditemukan dan dilakukan secara segera untuk mengatasi masalah ini.
